Manajemens2.umsida.ac.id – Program Studi Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menghadirkan Assoc Prof Dr Adam Voak dalam kegiatan International Guest Lecture bertema “The Competence Edge: Mastering Future Skills Through Strategic Excellence”, Sabtu (4/7/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan secara hybrid di Ruang 704 Lantai 7 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 3 Umsida dan melalui Zoom Meeting tersebut menjadi ruang akademik bagi mahasiswa Magister Manajemen untuk memahami perubahan kompetensi yang dibutuhkan pada era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Dalam forum internasional tersebut, Adam Voak menjelaskan bahwa AI tidak lagi dapat dipandang sebagai teknologi masa depan. Kehadirannya telah memengaruhi cara manusia bekerja, belajar, menganalisis informasi, mengambil keputusan, dan menghasilkan pengetahuan.
AI Mengubah Proses Kerja dan Pengambilan Keputusan
Adam Voak menyampaikan bahwa AI mempunyai kemampuan besar dalam membantu berbagai aktivitas manusia. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mengenali pola, menganalisis data, menerjemahkan teks, menyusun informasi, serta menyelesaikan pekerjaan rutin dan berulang.
Meskipun demikian, kemajuan AI tidak secara otomatis menghilangkan peran manusia. Sebaliknya, manusia perlu memperkuat kemampuan yang sulit ditiru atau digantikan oleh teknologi.
Kemampuan tersebut disebut sebagai human edge, yaitu keunggulan manusia dalam menghadapi persoalan kompleks, situasi ambigu, serta kondisi yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan data dan perhitungan teknologi.
*Human edge* mencakup kemampuan berpikir kritis, kreativitas, empati, komunikasi lintas budaya, membangun kepercayaan, serta keberanian mengambil keputusan ketika informasi yang tersedia belum sepenuhnya lengkap.
Bagi mahasiswa Magister Manajemen Umsida, kompetensi tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan dunia organisasi. Seorang manajer tidak hanya membutuhkan kemampuan membaca data, tetapi juga harus mampu memahami manusia, budaya organisasi, perubahan lingkungan, dan konsekuensi dari keputusan yang diambil.
Penggunaan AI dalam manajemen juga harus ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat kualitas keputusan, bukan sebagai pengganti keseluruhan proses penilaian manusia.
Kompetensi Manajemen Tidak Cukup Berbasis Pengetahuan
Dalam pemaparannya, Adam Voak mengajak peserta meninjau kembali makna kompetensi. Pada masa sebelumnya, kompetensi sering diukur berdasarkan penguasaan pengetahuan, gelar akademik, atau kemampuan mengingat dan menyampaikan informasi.
Namun, perkembangan AI menuntut ukuran kompetensi yang lebih luas. Mahasiswa tidak cukup hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga harus mampu mengevaluasi, mempertanyakan, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
“AI dapat menyimpan dan mengolah lebih banyak pengetahuan, tetapi manusia tetap harus mampu menilai, mempertanyakan, dan menentukan mana yang dapat dipercaya,” ujar Adam Voak.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui jawaban. Mereka harus mampu mengajukan pertanyaan yang tepat, memeriksa sumber informasi, menguji ketepatan data, serta menilai kembali hasil yang diberikan oleh AI.
Kemampuan mengevaluasi keluaran AI menjadi salah satu kompetensi penting bagi calon manajer dan pemimpin organisasi. Tanpa kemampuan evaluatif, penggunaan teknologi dapat menimbulkan berbagai risiko, seperti informasi yang keliru, bias dalam analisis, keputusan yang tidak akurat, hingga ketergantungan berlebihan terhadap sistem digital.
Dalam konteks manajemen, kesalahan dalam membaca hasil analisis AI dapat berdampak pada kebijakan organisasi, pengelolaan sumber daya manusia, strategi pemasaran, keuangan, hingga hubungan dengan pemangku kepentingan.
Oleh karena itu, calon pemimpin organisasi tidak hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus memahami batasan, risiko, dan dampak etis dari penggunaannya.
Mahasiswa Didorong Kritis dan Adaptif terhadap AI
Materi yang disampaikan Adam Voak menjadi pengingat bahwa penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan kematangan berpikir dan tanggung jawab profesional.
Mahasiswa Magister Manajemen Umsida didorong untuk tidak berhenti sebagai pengguna AI. Mereka juga perlu memahami cara kerja, keterbatasan, potensi bias, serta risiko yang dapat muncul dari penggunaan teknologi tersebut.
Adam Voak turut menekankan pentingnya learning agility, yaitu kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan memperbarui keterampilan dalam menghadapi perubahan lingkungan kerja yang berlangsung cepat.
Kemampuan tersebut diperlukan karena pengetahuan dan keterampilan yang relevan saat ini belum tentu tetap sesuai dengan kebutuhan organisasi pada masa mendatang. Seorang pemimpin harus terbuka terhadap pembelajaran baru, mampu mengevaluasi pengalaman, serta cepat menyesuaikan strategi ketika menghadapi perubahan.
Selain kemampuan beradaptasi, mahasiswa juga perlu mengembangkan kolaborasi lintas disiplin. Dunia kerja masa depan tidak hanya membutuhkan individu yang unggul secara teknis, tetapi juga orang yang mampu bekerja dengan berbagai latar belakang keilmuan, budaya, profesi, dan pengalaman.
Melalui *International Guest Lecture* tersebut, Program Studi Magister Manajemen Umsida memperkuat pemahaman mahasiswa bahwa masa depan organisasi bukan hanya ditentukan oleh kemampuan mengadopsi teknologi.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi











