ManajemenS2.umsida.ac.id – Kinerja UMKM tidak hanya ditentukan oleh modal uang, kualitas produk, atau kemampuan promosi.
Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, ada modal lain yang sering tidak terlihat, tetapi justru sangat menentukan daya tahan usaha, yakni intellectual capital.
Hal ini menjadi salah satu temuan penting dalam penelitian Prof Dr Sigit Hermawan SE MSi, dosen Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), bersama Sintha Wahyu Arista, berjudul Improving MSME Performance Based on Digital Marketing, Intellectual Capital, Product Innovation and Competitive Advantage.
Penelitian ini mengkaji UMKM sektor makanan dan minuman di Jawa Timur dengan pendekatan kuantitatif berbasis survei.
Intellectual Capital Bukan Sekadar Pengetahuan
Dalam penelitian tersebut, intellectual capital dipahami sebagai aset tidak berwujud yang dapat membantu usaha memiliki keunggulan di pasar.

Modal ini mencakup tiga komponen utama, yaitu human capital, structural capital, dan relational capital.
Artinya, UMKM tidak cukup hanya memiliki produk yang baik, tetapi juga perlu memiliki SDM yang terampil, sistem kerja yang rapi, dan hubungan kuat dengan pelanggan maupun mitra.
Menurut Prof Sigit, hal ini menunjukkan bahwa pelaku UMKM perlu melihat pengetahuan, pengalaman, dan relasi sebagai aset penting dalam pengembangan usaha.
“Intellectual capital menjadi modal strategis karena di dalamnya ada pengetahuan, keterampilan, sistem, dan hubungan yang dapat memperkuat kinerja sekaligus daya saing UMKM,” ujarnya.
Baca juga: Kreator Digital di Persimpangan Antara AI dan Orisinalitas
SDM Sistem dan Relasi Tentukan Daya Saing

Human capital berkaitan dengan kemampuan, pengalaman, kreativitas, serta keterampilan pelaku usaha dan tenaga kerja.
Dalam praktik UMKM, aspek ini tampak pada kemampuan membuat keputusan, melayani pelanggan, mengelola promosi, hingga membaca perubahan pasar.
Sementara itu, structural capital mencakup sistem kerja, prosedur, budaya organisasi, teknologi, hingga cara usaha menyimpan dan mengelola pengetahuan.
UMKM yang memiliki sistem lebih rapi akan lebih mudah menjaga kualitas layanan, meningkatkan produktivitas, dan tidak terlalu bergantung pada satu orang saja.
Adapun relational capital berhubungan dengan jaringan usaha, kepercayaan pelanggan, hubungan dengan pemasok, mitra, dan komunitas.
Dalam sektor makanan dan minuman, relasi semacam ini sangat penting karena pelanggan sering kembali bukan hanya karena produk, tetapi juga karena rasa percaya dan kedekatan dengan pelaku usaha.
Keunggulan Bersaing Lahir dari Modal Tak Berwujud
Hasil penelitian menunjukkan bahwa intellectual capital berpengaruh signifikan terhadap kinerja UMKM dan keunggulan bersaing.
Dengan kata lain, UMKM yang mampu mengelola pengetahuan, sistem, dan relasi dengan baik memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang di pasar.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa intellectual capital dapat menjadi dasar terbentuknya keunggulan bersaing.
Ketika pelaku UMKM mampu mengubah keterampilan, sistem, dan jaringan menjadi pembeda usaha, maka performa bisnis dapat meningkat, baik dari sisi penjualan, pelanggan, maupun keberlanjutan usaha.
Menurut Prof Sigit, UMKM perlu berhenti melihat intellectual capital sebagai hal pelengkap. Justru, modal tak terlihat ini harus dikelola secara serius.
“Pelaku UMKM perlu membangun kapasitas SDM, memperkuat sistem usaha, dan menjaga hubungan dengan pelanggan serta mitra agar mampu menciptakan nilai yang sulit ditiru pesaing,” jelasnya.
Pada akhirnya, riset ini memberi pesan penting bahwa UMKM yang kuat bukan hanya UMKM yang punya produk atau modal besar.
UMKM yang kuat adalah usaha yang mampu mengelola pengetahuan, membangun sistem, menjaga relasi, dan mengubah seluruh modal tak terlihat itu menjadi kekuatan nyata di pasar.
Sumber jurnal: “Improving MSME Performance Based on Digital Marketing, Intellectual Capital, Product Innovation and Competitive Advantage”
Penulis: Indah Nurul Ainiyah












